Pengobatan Autisme

Meski autisme tidak bisa disembuhkan, ada banyak layanan bantuan pendidikan dan terapi perilaku khusus yang dapat meningkatkan kemampuan penyandang autisme. Tetapi bantuan untuk autisme memiliki banyak jenis dan keluarga biasanya kesulitan untuk memilih bantuan mana yang cocok karena efeknya akan berbeda pada tiap penyandang. Pengobatan Autisme juga membutuhkan komitmen waktu, emosi, dan finansial.

Program penanganan autisme (sering disebut intervensi) biasanya melibatkan para spesialis, seperti dokter spesialis anak, psikolog, psikiater, ahli terapi wicara, dan ahli terapi okupasi.

Aspek-aspek penting dalam perkembangan anak yang seharusnya menjadi fokus pada tiap bantuan adalah kemampuan berkomunikasi, kemampuan berinteraksi, kemampuan kognitif (misalnya, bermain secara kreatif), dan kemampuan akademis.

Intervensi Interaksi Sosial
Jenis bantuan ini bertujuan membantu penyandang autisme anak-anak untuk berkomunikasi dan berinteraksi sehingga mereka lebih mudah beradaptasi. Intervensi dini ini juga mungkin diadakan di sekolah atau bersama orang tua dan guru.

  • Analisis Perilaku Terapan (ABA)

ABA (Applied Behaviour Analysis) membagi kemampuan (misalnya, kemampuan komunikasi dan kognitif) menjadi tugas-tugas sederhana yang diajarkan secara terstruktur serta memberikan hadiah atau pujian untuk mendorong perilaku baik. ABA biasanya dilakukan di rumah, tapi ada program tertentu yang terkadang dapat diterapkan di sekolah atau tempat penitipan anak.

Tugas-tugas sederhana yang lama-kelamaan semakin kompleks dalam jenis terapi yang banyak dipakai di Indonesia ini dapat membantu perkembangan sang anak dengan meningkatkan kemampuannya secara bertahap. Tetapi ada sebagian pakar yang mengkhawatirkan intensitasnya dan meragukan kegunaan kemampuan yang dikembangkan tersebut di luar terapi.

  • Treatment and Education of Autistic and Related Communication Handicapped Children (TEACCH)

Ada penelitian yang menunjukkan bahwa anak-anak dengan autisme sering menunjukkan respons yang lebih baik terhadap informasi yang diberikan secara visual. Karena itulah TEACCH mengutamakan sistem pembelajaran terstruktur menggunakan komunikasi visual.

Pengajaran dan Pelatihan Untuk Orang Tua
Peran orang tua bagi anak-anak penyandang autisme sangatlah penting. Partisipasi aktif orang tua akan mendukung dan membantu meningkatkan kemampuan sang anak.

Mencari informasi sebanyak mungkin tentang autisme serta penanganannya sangat dianjurkan untuk para orang tua. Anda bisa mencari tahu lebih banyak melalui Masyarakat Peduli Autis Indonesia (MPATI), Yayasan Autisma Indonesia, serta International Center for Special Care in Education (ICSCE).

Membantu anak Anda untuk berkomunikasi dapat mengurangi kecemasan dan memperbaiki perilakunya karena komunikasi adalah hambatan khusus bagi anak-anak dengan autisme. Kiat-kiat mungkin bisa berguna:

Gunakan kata-kata yang sederhana.

  1. Selalu menyebut nama anak saat mengajaknya bicara.
  2. Manfaatkan bahasa tubuh untuk memperjelas maksud Anda.
  3. Berbicara pelan-pelan dan jelas.
  4. Beri waktu pada anak Anda untuk memproses kata-kata Anda.
  5. Jangan berbicara saat di sekeliling Anda berisik.
  6. Meningkatkan Kemampuan Komunikasi

Ada beberapa penanganan yang biasanya dianjurkan untuk mengatasi gangguan komunikasi yang dialami anak Anda, yaitu:

  • Bantuan terapi psikologi

Penanganan secara psikologis dapat dianjurkan untuk membantu pengobatan jika anak Anda menderita autisme dan masalah kejiwaan, seperti gangguan kecemasan. Contoh dari jenis penanganan ini adalah terapi perilaku kognitif atau Cognitive Behavioural Therapy (CBT).

Terapi psikologis umumnya dilakukan dengan menemui psikolog untuk menceritakan perasaan serta dampaknya pada perilaku dan kesejahteraan. Karena itu para spesialis yang terlibat harus menyesuaikan metode terapi dengan keterbatasan yang dimiliki penyandang autisme. Misalnya, informasi dalam bentuk tulisan atau visual dan menggunakan bahasa yang sederhana.

  • Terapi wicara

Hampir semua anak dengan autisme mengalami kesulitan bicara. Terapi ini mengutamakan pelatihan untuk meningkatkan kemampuan bicara sehingga anak mampu berinteraksi dengan orang lain.

Ahli terapi akan menggunakan sejumlah teknik seperti alat bantu visual, cerita, dan mainan untuk meningkatkan kemampuan komunikasi.

  • Picture Exchange Communication System (PECS)

Ahli terapi PECS akan menggunakan gambar untuk membantu anak-anak dengan autisme. Cara ini dipilih karena gambar lebih efektif untuk berkomunikasi bagi sebagian penyandang autisme anak-anak.

Pada tahap awal, anak-anak akan diajari cara komunikasi sederhana seperti memberikan kartu bergambar untuk berkomunikasi dengan orang dewasa. Lalu ahli terapi akan mengajarkan kemampuan yang lebih sulit, misalnya menggunakan kartu bergambar untuk membentuk kalimat. Proses ini bertujuan agar anak-anak belajar memulai komunikasi tanpa diminta.

  • Metode komunikasi Makaton

Makaton adalah metode komunikasi menggunakan bahasa isyarat dan simbol untuk membantu penyandang autisme berkomunikasi. Metode ini dirancang untuk membantu komunikasi verbal. Karena itu, bahasa isyarat dan simbol biasanya digunakan bersamaan dengan perkataan agar artinya dapat lebih dimengerti.

Tiap gerakan bahasa isyarat Makaton memiliki simbol masing-masing berupa gambar sederhana. Simbol tersebut juga bisa digunakan tanpa bahasa isyarat. Makaton sangat fleksibel karena bisa digunakan sesuai kebutuhan masing-masing pemakainya. Misalnya untuk:

  1. Mengungkapkan pikiran, pilihan, dan emosi.
  2. Menandai objek, gambar, foto, dan tempat.
  3. Bermain dan bernyanyi.
  4. Menulis resep, daftar belanja, surat, dan pesan.
  5. Membantu menunjukkan jalan atau gedung.

Sebagian besar penyandang autisme yang awalnya menggunakan Makaton lama-kelamaan akan berhenti secara alami dan beralih pada kemampuan komunikasi verbal seiring dengan perkembangan kemampuan bicara mereka.

Selain meningkatkan kemampuan dasar komunikasi pada sebagian penyandang autisme, Makaton juga dapat membantu proses interaksi sosial mereka.

Penggunaan Obat-obatan
Walau tidak bisa menyembuhkan autisme, obat-obatan mungkin diberikan dokter spesialis yang bersangkutan untuk mengendalikan gejala-gejala tertentu. Tetapi anak Anda biasanya dianjurkan untuk menjalani pemeriksaan ulang setelah meminumnya selama beberapa minggu karena obat-obatan tersebut memiliki efek samping yang signifikan. Beberapa jenis obat yang biasa diberikan adalah:

  1. Depresi yang dapat diatasi dengan jenis obat penghambat pelepasan selektif serotonin (SSRI).
  2. Sulit tidur yang dapat diatasi dengan obat seperti melatonin.
  3. Hiperaktif yang dapat diatasi dengan obat seperti methylphenidate.
  4. Epilepsi yang dapat diatasi dengan jenis obat yang disebut antikonvulsan.
  5. Perilaku yang agresif dan yang membahayakan, seperti mengamuk atau menyakiti diri sendiri. Jika parah atau penanganan secara psikologis tidak berpengaruh, kelainan ini mungkin dapat diatasi dengan obat anti-psikotik.

Metode Pengobatan yang Sebaiknya Dihindari
Ada sejumlah metode pengobatan alternatif yang dikira berpotensi untuk mengatasi autisme, tapi keefektifannya sama sekali belum terbukti dan bahkan ada kemungkinan beberapa di antaranya berbahaya. Berikut ini adalah beberapa metode pengobatan alternatif yang sebaiknya dihindari:

  1. Pola makan khusus, misalnya makanan bebas gluten atau kasein.
  2. Terapi neurofeedback. Aktivitas otak biasanya dipantau lewat elektroda yang dipasang di kepala. Pasien bisa melihat gelombang otaknya lewat layar dan diajari cara mengubahnya.
  3. Terapi khelasi yang menggunakan obat atau zat lain untuk menghilangkan zat logam, terutama merkuri, dari tubuh.
  4. Terapi oksigen hiperbarik. Pengobatan dengan oksigen dalam ruang udara bertekanan tinggi.

Sumber : www.alodokter.com

Artikel Terkait : Pengertian Autisme

Tag:, , , ,