Penyebab Asma

Penyebab asma masih belum diketahui. Namun ada beberapa hal yang dapat meningkatkan risiko terkena penyakit tersebut, diantaranya:

  • Mengidap penyakit bronkiolitis atau infeksi paru-paru saat masih kecil.
  • Memiliki riwayat keluarga berpenyakit asma atau alergi lainnya yang berkaitan (dikenal sebagai penyakit atopik) seperti alergi makanan, alergi terhadap serbuk sari dan eksim.
  • Terpapar asap rokok saat masih kecil, terutama jika ibu Anda merokok saat hamil.
  • Lahir dengan berat badan di bawah normal, yaitu kurang dari dua kilogram.
  • Kelahiran prematur, terutama jika membutuhkan ventilator.
  • Memiliki masalah kesehatan atopik lainnya seperti alergi makanan.

Faktor-faktor pemicu serangan asma
Ada beberapa pemicu gejala asma, namun pemicu-pemicu tersebut berbeda-beda bagi tiap penderita. Jika sudah mengetahui apa pemicu asma Anda, cobalah untuk menghindarinya. Berikut ini adalah sejumlah pemicu asma:

  • Alergen, seperti bulu hewan, tungau debu, dan serbuk sari.
  • Infeksi paru-paru dan saluran napas yang umumnya disebabkan oleh virus flu dan demam.
  • Obat-obatan seperti obat anti inflamasi non steroid (obat pereda sakit) seperti aspirin dan ibuprofen. Sebagai catatan, aspirin sebaiknya tidak diberikan kepada anak-anak di bawah usia 16 tahun.
  • Iritasi udara, seperti uap kimia, asap rokok, dan polusi udara.
  • Faktor cuaca, seperti cuaca dingin, cuaca berangin, cuaca panas yang didukung kualitas udara yang buruk, cuaca lembab, dan perubahan suhu yang drastis.
  • Makanan atau minuman yang mengandung sulfit (zat alami yang kadang-kadang digunakan sebagai pengawet makanan) seperti selai, udang, makanan olahan, makanan setengah matang, minuman sari buah kemasan, dan beberapa wine tertentu yang hanya memicu orang-orang yang rentan.
  • Olahraga (kadang-kadang gejala asma menjadi lebih buruk saat penderitanya melakukan olah raga).
  • Kondisi dalam ruangan, seperti ruangan yang lembab atau berjamur, bahan lantai, bahan kimia karpet, dan tungau debu.
  • Faktor-faktor emosi seperti stres atau tertawa.
  • Alergi makanan tertentu yang disebut juga sebagai reaksi anafilaksis. Contohnya adalah penderita asma yang alergi terhadap kacang-kacangan. Reaksi anafilaksis dapat memicu serangan asma yang lebih buruk pada penderitanya.

Kondisi penderita saat terserang asma
Saat gejala asma muncul (serangan asma), biasanya otot-otot di sekitar saluran pernapasan mengencang. Selain itu ada peningkatan peradangan (pembengkakan) pada lapisan saluran pernapasan dan meningkatnya produksi dahak yang makin menambah penyempitan pada saluran tersebut.

Dengan menyempitnya bagian-bagian dari saluran pernapasan, maka udara akan lebih sulit mengalir sehingga penderitanya makin sulit bernapas. Keadaan ini biasanya disertai dengan munculnya suara mengi, meski tidak semua penderita asma mengalaminya. Bahkan dalam serangan asma yang mengancam jiwa sekali pun, bisa saja suara mengi tersebut tidak ada.

Serangan asma tidak mengenal waktu dan bisa terjadi kapan saja. Namun sebelum itu terjadi, biasanya ada tanda-tanda peringatan beberapa hari sebelumnya. Tanda peringatan tersebut termasuk gejala yang memburuk (terutama di malam hari) dan penderita yang terus-menerus harus menggunakan inhaler (obat hirup untuk asma) pereda.

Segera hubungi 118 untuk meminta bantuan ambulans jika Anda mengalami atau Anda melihat orang lain mengalami serangan asma buruk sehingga sulit bernapas.

Sumber : www.alodokter.com

Artikel Terkait : Diagnosis Asma

Tag:, , , ,